‘Multitasking’ Tak Selamanya Baik

KOMPAS.com — Perempuan selalu disebut lebih hebat daripada pria, antara lain, karena memiliki kemampuan multitasking. Di rumah, misalnya, Anda bisa mencuci pakaian sambil memasak dan menonton televisi. Atau mengerjakan laporan, mengasuh anak, sambil sesekali menghubungi kolega Anda.

Namun, multitasking ternyata tidak selamanya baik. Tak usahlah kita berbicara mengenai mengemudi sambil menelepon atau mengirim SMS. Multitasking dalam taraf yang ringan pun, seperti menelepon teman sambil mengirim e-mail ke klien, ternyata tidak seefisien seperti yang kita yakini.

Bagaimanapun juga, otak kita memiliki batasan-batasan kognitif, demikian menurut sebuah studi yang diterbitkan di jurnal sains NeuroImage. Kita boleh saja berpikir bahwa kita mampu melakukan dua hal dalam waktu bersamaan, namun otak kita ternyata berusaha keras memahami dua aktivitas tersebut.

Kita juga menjadi kurang efisien setelah kita menutup e-mail sekaligus mematikan ponsel. Dalam eksperimen yang diadakan Stanford University, sekelompok mahasiswa diminta untuk menghabiskan 30 menit secara simultan untuk mengompilasi playlist musik, chatting, dan menulis sebuah tulisan pendek. Kelompok kedua berfokus pada masing-masing aktivitas tersebut, masing-masing selama 10 menit. Setelah itu, mereka diberi tes memori. Dari eksperimen ini terbukti, singletasker secara signifikan bekerja lebih baik daripada para multitasker.

“Sejumlah bukti yang hebat menunjukkan bahwa otak bekerja lebih baik ketika melakukan tugas dalam sekuens daripada mengerjakan seluruhnya bersamaan,” kata Clifford Nass, PhD, profesor bidang komunikasi di Stanford University.

Menurutnya, konsentrasi Anda akan terpecah setiap kali Anda mengubah aktivitas. Timnya belum tahu apa pengaruh jangka panjang dari tindakan multitasking yang kronis, namun bahwa multitasking memberi pengaruh buruk pada kita, tak perlu dipertanyakan lagi.

Sementara itu, Amanda A McGowan, pakar akupunktur dan praktisi medis China yang berspesialisasi di bidang kelainan yang berhubungan dengan stres, sepakat dengan hasil penelitian ini. Banyak dari pasiennya yang mengeluhkan kelelahan sebenarnya menderita pengaruh dari distraksi mental dan overextension.

Multitasking kan sudah lama diperkirakan memperlambat dan mencederai pikiran,” ungkapnya. “Mereka yang mempraktikkan pengobatan China juga yakin bahwa multitasking bisa mencederai tubuh.”

Meskipun demikian, masih mungkin untuk memperbaiki kemampuan Anda untuk berkonsentrasi. Ada beberapa cara untuk melakukannya, antara lain, dengan berlatih yoga, akupunktur, atau berkonsultasi pada pakar manajemen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s