Holocaust

Holocaust (dari bahasa Yunani: holokauston yang berarti “persembahan pengorbanan yang terbakar sepenuhnya”) adalah genosida sistematis yang dilakukan Jerman Nazi terhadap berbagai kelompok etnis, keagamaan, bangsa, dan sekuler pada masa Perang Dunia II.

Merayakan hidup

Warga Yahudi di Eropa adalah korban terbesar daripada korban non-Yahudi Eropa yang menjadi target kebencian, seperti etnik Poles (etnik minoritas Ukraina dan Belarusia di Polandia), penganut agama Roma Katolik serta aliran politik yang tak sejalan dengan Nazi, kaum cacat fisik dan mental, kaum homoseksual, dan lain-lain. Jumlah korban diperkirakan lebih dari 11 juta orang.

”Korban dimandikan, diberi pakaian bagus, dijamu sambil mendengarkan musik klasik terbaik, baru dimasukkan ke ruang gas beracun atau digiring ke kursi listrik,

Bangsa Yahudi di Eropa merupakan korban-korban utama dalam Holocaust, yang disebut kaum Nazi sebagai “Penyelesaian Terakhir Terhadap Masalah Yahudi”. Jumlah korban Yahudi umumnya dikatakan mencapai enam juta jiwa. Genosida ini yang diciptakan Adolf Hitler dilaksanakan, antara lain, dengan tembakan-tembakan, penyiksaan, dan gas racun, di kampung Yahudi dan Kamp konsentrasi.

Holocaust meninggalkan persoalan penuh dilema politik dan psikologis bagi Israel. Peristiwa keji yang sudah berlalu lebih dari 60 tahun itu bak hantu yang membayangi sejak tahun 1948 dan terus hidup di dalam ingatan sebagai bangsa.

Menurut Colin Chapman dalam Jurnal Perdamaian New Route (2001), mimpi ”tanah terjanji” bangsa yang terdiaspora lebih dari 2.000 tahun itu muncul 50 tahun sebelum Hitler-Nazi mengambil ”Solusi Akhir bagi Masalah Yahudi”. Holocaust meningkatkan arus pengungsi ke wilayah Palestina.

Ibu dari Wakil Perdana Menteri Israel, Moshe Yaalon, misalnya, adalah survivor dari Polandia yang tiba di tanah itu tahun 1946. Yaalon dituduh terlibat tindakan kriminal perang dalam pembunuhan pemimpin Hamas, Salah Shahade, di kota Gaza dan tewasnya 14 penduduk sipil Palestina, tahun 2002.

Sementara itu, negara-negara Arab—yang menolak Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 mengenai pembagian wilayah itu menjadi dua negara, menyusul perang tahun enam hari tahun 1967, setelah Israel ”menganeksasi” Jerusalem Timur—menilai, Holocaust dijadikan semacam senjata psikologis untuk terus mendukung Zionis.

”Pertikaian Palestina-Israel adalah konflik wilayah yang terus dirangsek Israel. Ini konflik teritorial, bukan konflik agama,” tegas Ziad Abu Ziyaad, Menteri Luar Negeri untuk Urusan Jerusalem, Otoritas Palestina (1998-2002) di Jerusalem.

Palestina juga punya alasan untuk terus khawatir karena kekuatan superior Israel. Dalam bahasa Abu Ziyaad, Palestina adalah subyek ketidakadilan berganda; keterusiran dan keterpecahan di satu sisi, ketertindasan dan perampasan tanah di sisi lain.

Setelah Resolusi Pemisahan PBB tahun 1948, Israel menguasai hampir 50 persen tanah Palestina. Namun, Israel terus mencabik-cabik wilayah Palestina, membuat warga Palestina tercerai-berai, bahkan di satu wilayah Palestina.

”Lihat saja tembok ini,” ujar Monjed Jadous (25/2). Warga Palestina di Betlehem memperlihatkan tembok pemisah setinggi 4 meter, antara kamp Aida Centre yang menampung 30.000 pengungsi dan kawasan hotel bertaraf internasional. Betlehem dikembalikan kepada Otoritas Nasional Palestina oleh Israel tahun 1995.

Sebenarnya apapun alasannya,membunuh merupakan tindakan yang salah dan tidak boleh dibenarkan,Apalagi pembumihangusan Suku atau Ras seperti yang dilakukan Hitler pada yahudi atau Saddam Husein Terhadap Suku Kurdi dengan Gas Sarin atau Senjata Bilogis yang digadang gadang Amerika.Sudah Seharusnya Palestina Dan Israel Duduk Bersama dengan Equal kesetaraan,Sehingga Terwujudnya perdamaian Di Bumi Palestina semakin cepat tercapai.Israel Dan Palestina harus menyadari betapa pentingnya Posisi Penyelesaian Konflik Mereka pada Peta percaturan Politik Dunia

Karena Konflik Israel dan Palestina tidak hanya Dipengaruhi Aspek geopolitis,tapi juga Historik dan Classic serta Sudah Sangat lama Berlangsung.Salah Satu Motivasi “Terorris (red amerika Version)”  didunia Adalah Pembalasan atas rasa sakit Hati mereka dengan saudara saudara mereka di palestina,KetidakAdilan menjadi Kata kuncinya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s